Jumat, 21 Januari 2011

Teori asal usul bahasa melayu

  • ASAL USUL BAHASA MELAYU

    Apabila kita ingin mengetahui asal-usul suatu bahasa, kita perlu mengetahui asal bangsa yang menjadi penutur utama bahasa tersebut.

    Hal ini demikian adalah karena bahasa itu dilahirkan oleh suatu masyarakat penggunanya dan pengguna bahasa itu membawa bahasanya ke mana pun ia pergi. Demikianlah juga halnya dengan bahasa Melayu. Apabila kita ingin mengetahui asal-usul bahasa Melayu, maka kita perlu menyusurgaluri asal-usul bangsa Melayu.

    Walaupun sudah ada beberapa kajian dilakukan terhadap asal-usul bangsa Melayu, tetapi kata sepakat para ahli belum dicapai. Setakat ini ada dua pandangan yang dikemukakan. Pandangan yang pertama menyatakan bahwa bangsa Melayu berasal dari utara (Asia Tengah) dan pandangan yang kedua menyatakan bahwa bangsa Melayu memang sudah sedia ada di Kepulauan Melayu atau Nusantara ini. Sebagai perbandingan, kedua-dua pandangan tersebut diperlihatkan seperti yang berikut ini.

  • Berasal dari Asia Tengah

    R.H. Geldern ialah seorang ahli prasejarah dan menjadi guru besar di Iranian Institute and School for Asiatic Studies telah membuat kajian tentang asal-usul bangsa Melayu. Sarjana yang berasal dari Wien, Austria ini telah membuat kajian terhadap kapak tua (beliung batu). Beliau menemui kapak yang diperbuat dari batu itu di sekitar hulu sungai Brahmaputra, Irrawaddy, Salween, Yangtze, dan Hwang. Bentuk dan jenis kapak yang sama, beliau temui juga di beberapa tempat di kawasan Nusantara. Geldern berkesimpulan, tentulah kapak tua tersebut dibawa oleh orang Asia Tengah ke Kepulauan Melayu ini.

    J.H.C. Kern ialah seorang ahli filologi Belanda yang pakar dalam bahasa Sanskrit dan pelbagai bahasa Austronesia yang lain telah membuat kajian berdasarkan beberapa perkataan yang digunakan sehari-hari terutama nama tumbuh-tumbuhan, hewan, dan nama perahu. Beliau menemukan bahwa perkataan yang terdapat di Kepulauan Nusantara ini terdapat juga di Madagaskar, Filipina, Taiwan, dan beberapa buah pulau di Lautan Pasifik. Perkataan tersebut di antara lain ialah: padi, buluh, rotan, nyiur, pisang, pandan, dan ubi. Berdasarkan daftar perkataan yang dikajinya itu Kern berkesimpulan bahwa bahasa Melayu ini berasal dari satu induk yang ada di Asia.

    W. Marsden pula dalam kajiannya menemukan bahwa bahasa Melayu dan bahasa Polinesia (bahasa yang digunakan di beberapa buah pulau yang terdapat di Lautan Pasifik) merupakan bahasa yang serumpun. E. Aymonier dan A. Cabaton pula menemukan bahwa bahasa Campa serumpun dengan bahasa Polinesia, manakala Hamy berpendapat bahwa bahasa Melayu dan bahasa Campa merupakan warisan dari bahasa Melayu Kontinental. Di samping keserumpunan bahasa, W. Humboldt dalam kajiannya menemukan bahwa bahasa Melayu (terutama bahasa Jawa) telah banyak menyerap bahasa Sanskrit yang berasal dari India. J.R. Foster yang membuat kajiannya berdasarkan pembentukan kata berpendapat bahwa terdapat kesamaan pembentukan kata dalam bahasa Melayu dan bahasa Polinesia. Beliau berpendapat bahwa kedua-dua bahasa ini berasal dari bahasa yang lebih tua yang dinamainya Melayu Polinesia Purba. Seorang ahli filologi bernama A.H. Keane pula berkesimpulan bahwa struktur bahasa Melayu serupa dengan bahasa yang terdapat di Kampuchea.

    J.R. Logan yang membuat kajiannya berdasarkan adat resam suku bangsa menemukan bahwa ada persamaan adat resam kaum Melayu dengan adat resam suku Naga di Assam (di daerah Burma dan Tibet). Persamaan adat resam ini berkait rapat dengan bahasa yang mereka gunakan. Beliau mengambil kesimpulan bahwa bahasa Melayu tentulah berasal dari Asia. G.K. Nieman dan R.M. Clark yang juga membuat kajian mereka berdasarkan adat resam dan bahasa menemukan bahwa daratan Asia merupakan tanah asal nenek moyang bangsa Melayu. Dua orang sarjana Melayu, yaitu Slametmuljana dan Asmah Haji Omar juga menyokong pendapat di atas. Slametmuljana yang membuat penyelidikannya berdasarkan perbandingan bahasa, sampai pada suatu kesimpulan bahwa bahasa Austronesia yang dalamnya termasuk bahasa Melayu, berasal dari Asia. Asmah Haji Omar membuat uraian yang lebih rinci lagi. Beliau berpendapat bahwa perpindahan orang Melayu dari daratan Asia ke Nusantara ini tidaklah sekaligus dan juga tidak melalui satu jalan. Ada yang melalui daratan, yaitu Tanah Semenanjung, melalui Samudra Hindia dan ada pula yang melalui Laut China Selatan. Namun, beliau menolak pendapat yang mengatakan bahwa pada mulanya asal bahasa mereka satu dan perbedaan yang berlaku kemudian adalah karena faktor geografi dan komunikasi. Dengan demikian, anggapan bahwa bahasa Melayu Modern merupakan perkembangan dari bahasa Melayu Klasik, bahasa Melayu Klasik berasal dari bahasa Melayu Kuno dan bahasa Melayu Kuno itu asalnya dari bahasa Melayu Purba merupakan anggapan yang keliru.

    Beliau berpendapat bahwa hubungan bahasa Melayu Modern dengan bahasa Melayu Purba berdasarkan urut-urutan ini.

    Bahasa Melayu Modern berasal dari bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Klasik berasal dari bahasa Melayu Induk. Bahasa Melayu Induk berasal dari bahasa Melayu Purba yang juga merupakan asal dari bahasa Melayu Kuno. Urutan ini juga menunjukkan bahwa bahasa Melayu Modern bukanlah merupakan pengembangan dari dialek Johor-Riau dan bahasa Melayu Modern tidak begitu rapat hubungannya dengan dialek yang lain (Da, Db, dan Dn). Dialek yang lain berasal dari Melayu Induk manakala dialek Johor-Riau berasal dari Melayu Klasik.

    Berikut ini akan diperlihatkan cara perpindahan orang Melayu dari Asia Tengah tersebut.

    1. Orang Negrito

    Menurut pendapat Asmah Haji Omar sebelum perpindahan penduduk dari Asia berlaku, Kepulauan Melayu (Nusantara) ini telah ada penghuninya yang kemudian dinamakan sebagai penduduk asli. Ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa mereka yang tinggal di Semenanjung Malaysia dikenal sebagai orang Negrito. Orang Negrito ini diperkirakan telah ada sejak tahun 8000 SM (Sebelum Masehi). Mereka tinggal di dalam gua dan mata pencarian mereka memburu binatang. Alat perburuan mereka dibuat dari batu dan zaman ini disebut sebagai Zaman Batu Pertengahan. Di Kedah sebagai contoh, pada tahun 5000 SM, yaitu pada Zaman Paleolit dan Mesolit, telah didiami oleh orang Austronesia yang menurunkan orang Negrito, Sakai, Semai, dan sebagainya.

    2. Melayu-Proto

    Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa orang Melayu ini berasal dari Asia Tengah, perpindahan tersebut (yang pertama) diperkirakan pada tahun 2500 SM. Mereka ini kemudian dinamakan sebagai Melayu-Proto. Peradaban orang Melayu-Proto ini lebih maju sedikit daripada orang Negrito. Orang Melayu-Proto telah pandai membuat alat bercocok tanam, membuat barang pecah belah, dan alat perhiasan. Kehidupan mereka berpindah-randah. Zaman mereka ini dinamakan Zaman Neolitik atau Zaman Batu Baru.

    3. Melayu-Deutro

    Perpindahan penduduk yang kedua dari Asia yang dikatakan dari daerah Yunan diperkirakan berlangsung pada tahun 1500 SM. Mereka dinamakan Melayu-Deutro dan telah mempunyai peradaban yang lebih maju dari Melayu-Proto. Melayu-Deutro telah mengenal kebudayaan logam. Mereka telah menggunakan alat perburuan dan pertanian dari besi. Zaman mereka ini dinamakan Zaman Logam. Mereka hidup di tepi pantai dan menyebar hampir di seluruh Kepulauan Melayu ini.

    Kedatangan orang Melayu-Deutro ini dengan sendirinya telah mengakibatkan perpindahan orang Melayu-Proto ke pedalaman sesuai dengan cara hidup mereka yang berpindah-randah. Berlainan dengan Melayu-Proto, Melayu-Deutro ini hidup secara berkelompok dan tinggal menetap di sesuatu tempat. Mereka yang tinggal di tepi pantai hidup sebagai nelayan dan sebahagian lagi mendirikan kampung berhampiran sungai dan lembah yang subur. Hidup mereka sebagai petani dan berburu binatang. Orang Melayu-Deutro ini telah pandai bermasyarakat. Mereka biasanya memilih seorang ketua yang tugasnya sebagai ketua pemerintahan dan sekaligus ketua agama. Agama yang mereka anut ketika itu ialah animisme.

  • Berasal dari Nusantara

    Seorang sarjana Inggeris bernama J. Crawfurd telah membuat kajian perbandingan bahasa yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan kawasan Polinesia. Beliau berpendapat bahwa asal bahasa yang tersebar di Nusantara ini berasal dari bahasa di Pulau Jawa (bahasa Jawa) dan bahasa yang berasal dari Pulau Sumatera (bahasa Melayu). Bahasa Jawa dan bahasa Melayulah yang merupakan induk bagi bahasa serumpun yang terdapat di Nusantara ini.

    J. Crawfurd menambah uraiannya dengan bukti bahwa bangsa Melayu dan bangsa Jawa telah memiliki taraf kebudayaan yang tinggi dalam abad kesembilan belas. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau sampai pada satu kesimpulan bahwa:

    1. Orang Melayu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi malah merupakan induk yang menyebar ke tempat lain.
    2. Bahasa Jawa ialah bahasa tertua dan bahasa induk dari bahasa yang lain.

    K. Himly, yang mendasarkan kajiannya terhadap perbandingan bunyi dan bentuk kata bahasa Campa dan pelbagai bahasa di Asia Tenggara menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa bahasa Melayu Polinesia serumpun dengan bahasa Campa. Pendapat ini disokong oleh P.W. Schmidt yang membuat kajiannya berdasarkan struktur ayat dan perbendaharaan kata bahasa Campa dan Mon-Khmer. Beliau menemukan bahwa bahasa Melayu yang terdapat dalam kedua-dua bahasa di atas merupakan bahasa serapan saja.

    Sutan Takdir Alisjahbana, ketika menyampaikan Syarahan Umum di Universiti Sains Malaysia (Juli 1987) menggelar bangsa yang berkulit coklat yang hidup di Asia Tenggara, yaitu Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Filipina Selatan sebagai bangsa Melayu yang berasal dari rumpun bangsa yang satu. Mereka bukan saja mempunyai persamaan kulit bahkan persamaan bentuk dan anggota badan yang berbeda dari bangsa Cina di sebelah timur dan bangsa India di sebelah barat.

    Gorys Keraf di dalam bukunya Linguistik bandingan historis (1984) mengemukakan teori Leksikostatistik dan teori Migrasi bagi mengkaji asal usul bangsa dan bahasa Melayu. Setelah mengemukakan uraian tentang kelemahan pendapat terdahulu seperti: Reinhold Foster (1776), William Marsden (1843), John Crawfurd (1848), J.R. Logan (1848), A.H. Keane (1880), H.K. Kern (1889), Slametmuljana (1964), dan Dyen (1965) beliau mengambil kesimpulan bahwa "...negeri asal (tanahair, homeland) nenek moyang bangsa Austronesia haruslah daerah Indonesia dan Filipina (termasuk daerah-daerah yang sekarang merupakan laut dan selat), yang dulunya merupakan kesatuan geografis".

    Pendapat lain yang tidak mengakui bahwa orang Melayu ini berasal dari daratan Asia mengatakan bahwa pada Zaman Kuarter atau Kala Wurn bermula dengan Zaman Ais Besar sekitar dua juta sehingga lima ratus ribu tahun yang lalu. Zaman ini berakhir dengan mencairnya es secara perlahan-lahan dan air laut menggenangi dataran rendah. Dataran tinggi menjadi pulau. Ada pulau yang besar dan ada pulau yang kecil. Pemisahan di antara satu daratan dengan daratan yang lain berlaku juga karena berlakunya letusan gunung berapi atau gempa bumi. Pada masa inilah Semenanjung Malaka berpisah dengan yang lain sehingga kemudian dikenal sebagai Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan pulau lain di Indonesia.

    Proto homonoid yang dianggap sebagai pramanusia dianggarkan sudah ada sejak satu juta tahun yang lalu dan ia berkembang secara evolusi. Namun, manusia yang sesungguhnya baru bermula sejak 44,000 tahun yang lalu dan manusia Modern (homo sapiens sapiens) muncul sekitar 11,000 tahun yang lalu.

    Pada masa pramanusia dan manusia yang sesungguhnya di Asia Tenggara, Asia Timur, dan Australia telah ada manusia. Hal ini dibuktikan dengan ditemuinya homo soloinensis dan homo wajakensis (Manusia Jawa = "Java Man") yang diperkirakan berusia satu juta tahun. Pada masa ini wilayah tersebut didiami oleh tiga kelompok homo sapiens sapiens, yaitu orang Negrito di sekitar Irian dan Melanesia, orang Kaukasus di Indonesia Timur, Sulawesi, dan Filipina, serta orang Mongoloid di sebelah utara dan barat laut Asia.

    Masing-masing bangsa ini berpisah dengan berlakunya pemisahan daratan. Mereka berpindah dengan cara yang perlahan. Orang Kaukasus ada yang berpindah ke sebelah barat dan ada pula yang ke sebelah timur. Yang berpindah ke arah timur seperti ke Maluku, Flores, dan Sumba bercampur dengan orang Negrito. Yang berpindah ke arah barat mendiami Kalimantan, Aceh, Tapanuli, Nias, Riau, dan Lampung. Yang berpindah ke arah utara menjadi bangsa Khmer, Campa, Jarai, Palaung, dan Wa.

    Hukum Bunyi yang diperkenalkan oleh H.N. van der Tuuk dan diperluas oleh J.L.A. Brandes yang menghasilkan Hukum R-G-H dan Hukum R-D-L dikatakan oleh C.A. Mees bahwa "Segala bahasa Austronesia itu, walaupun berbeda karena pelbagai pengaruh dan sebab yang telah disebut, memperlihatkan titik kesamaan yang banyak sekali, baik pada kata-kata yang sama, seperti mata, lima, telinga, dan sebagainya, mahupun pada sistem imbuhan, dan susunan tatabahasanya. Perbedaan yang besar seperti dalam bahasa Indo-Eropah, misalnya: antara bahasa Perancis dan Jerman, antara Sanskrit dan Inggeris, tidak ada pada bahasa-bahasa Austronesia. Apalagi Kata Dasar (terutama bahasa Melayu) tidak berubah dalam morfologi" juga menunjukkan bahwa bahasa yang terdapat di Asia Selatan dan Tenggara berbeda dengan bahasa yang terdapat di Asia Tengah.

  • KESIMPULAN

    Pendapat Geldern tentang kapak tua masih boleh diperdebatkan. Budaya kapak tua yang dibuat dari batu sebenarnya bukan hanya terdapat di Asia Tengah dan Nusantara. Budaya yang sama akan ditemui pada semua masyarakat primitif sama ada di Amerika dan juga di Eropah pada zaman tersebut.

    Lagi pula, secara kebetulan Geldern membuat kajiannya bermula dari Asia kemudian ke Nusantara. Kesimpulan beliau tersebut mungkin akan lain sekiranya kajian itu bermula dari Nusantara, kemudian ke Asia Tengah.

    Kajian Kern berdasarkan bukti Etnolinguistik memperlihatkan bahwa persamaan perkataan tersebut hanya terdapat di alam Nusantara dengan pengertian yang lebih luas dan perkataan tersebut tidak pula ditemui di daratan Asia Tengah. Ini menunjukkan bahwa penutur bahasa ini tentulah berpusat di tepi pantai yang strategis yang membuat mereka mudah membawa bahasa tersebut ke barat, yaitu Madagaskar dan ke timur hingga ke Pulau Easter di Lautan Pasifik.

    Secara khusus, penyebaran bahasa Melayu itu dapat dilihat di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera, di sepanjang pantai barat Semenanjung Malaka; di pulau Jawa terdapat dialek Jakarta (Melayu-Betawi), bahasa Melayu Kampung di Bali, bahasa Melayu di Kalimantan Barat, bahasa Melayu Banjar di Kalimantan Barat dan Selatan, Sabah, Sarawak, dan bahasa Melayu di Pulau Seram.

    Pendapat Marsden bahwa bahasa Melayu yang termasuk rumpun bahasa Nusantara serumpun dengan rumpun bahasa Mikronesia, Melanesia, dan Polinesia dengan induknya bahasa Austronesia secara tidak langsung memperlihatkan adanya kekerabatan dua bahasa tersebut yang tidak ditemui di Asia Tengah. Penyebaran bahasa Austronesia juga terlihat hanya bahagian pesisir pantai timur (Lautan Pasifik), pantai barat (Samudra Hindia), dan Selatan Asia (kawasan Nusantara) saja dan ia tidak masuk ke wilayah Asia Tengah.

    Kesamaan pembentukan kata di antara bahasa Melayu dengan bahasa Polinesia yang dinyatakan oleh J.R. Foster dan kesamaan struktur bahasa Melayu dengan struktur bahasa Kamboja juga memperlihatkan bahwa bahasa yang berada di Asia Selatan dan Asia Timur berbeda dengan bahasa yang berada di Asia Tengah. Jika kita lihat rajah kekeluargaan bahasa akan lebih nyata lagi bahwa bahasa di Asia Tengah berasal dari keluarga Sino-Tibet yang melahirkan bahasa Cina, Siam, Tibet, Miao, Yiu, dan Burma. Berdekatan dengannya agak ke selatan sedikit ialah keluarga Dravida, yaitu: Telugu, Tamil, Malayalam, dan lain-lain. Kedua-dua keluarga bahasa ini berbeda dengan bahasa di bahagian Timur, Tenggara, dan Selatan Asia, yaitu keluarga Austronesia yang menurunkan empat kelompok besar, yaitu Nusantara, Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia.

    Jika ditinjau dari sudut ilmu kaji purba pula, penemuan tengkorak yang terdapat di Nusantara ini memberi petunjuk bahwa manusia telah lama ada di sini. Penemuan tersebut di antara lain ialah:

    1. Pithecanthropus Mojokerto (Jawa), yang kini berusia kira-kira 670,000 tahun.
    2. Pithecanthropus Trinil (Jawa), kira-kira 600,000 tahun.
    3. Manusia Wajak (Jawa), kira-kira 210,000 tahun.

    Jika tiga fosil tersebut dibandingkan dengan fosil Manusia Peking atau sinanthropus pekinensis (China) yang hanya berusia kira-kira 550,000 tahun terlihat bahwa manusia purba lebih selesa hidup dan beranak-pinak berdekatan dengan Khatulistiwa. Hal ini diperkuat lagi dengan penemuan fosil tengkorak manusia yang terdapat di Afrika yang dinamakan Zinjanthropus yang berusia 1,750,000 tahun. Beberapa hujah ini menambah kukuh kesimpulan Gorys Keraf di atas yang menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Melayu ini tentulah sudah sedia ada di Kepulauan Melayu yang menggunakan bahasa keluarga Nusantara. Masih ada soalan yang belum terjawab, yaitu jika betul bangsa Melayu ini memang berasal dari Alam Melayu ini, sebelum itu dari manakah asal mereka? Pendapat orang Minangkabau di Sumatera Barat bahwa keturunan mereka ada hubungan dengan pengikut Nabi Nuh, yaitu bangsa Ark yang mendarat di muara Sungai Jambi dan Palembang semasa berlakunya banjir besar seperti yang diungkapkan oleh W. Marsden (1812) masih boleh dipertikaikan.

    Yang agak berkemungkinan disusurgaluri ialah dari silsilah Nabi Nuh dari tiga anaknya, yaitu Ham, Yafit, dan Sam. Dikatakan bahwa Ham berpindah ke Afrika yang keturunannya kemudian disebut Negro berkulit hitam, Yafit berpindah ke Eropah yang kemudian dikenal sebagai bangsa kulit putih, dan Sam tinggal di Asia menurunkan bangsa kulit kuning langsat. Putera kepada Sam ialah Nabi Hud yang tinggal di negeri Ahqaf yang terletak di antara Yaman dan Oman. Mungkinkah keturunan Nabi Hud yang tinggal di tepi laut, yang sudah sedia jadi pelaut, menyebar ke Pulau Madagaskar di Samudra Hindia hingga ke Hawaii di Lautan Pasifik lebih mempunyai kemungkinan menurunkan bangsa Melayu? Satu kajian baru perlu dilakukan.
     Bahasa Melayu mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan yang dituturkan di wilayah Nusantara dan beberapa tempat lain. Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia); salah satu bahasa yang diakui di Singapura; dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai bahasa Indonesia).

    Bahasa Melayu merupakan lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di Nusantara pada masa pra-kolonial. Migrasi kemudian juga turut memperluas pemakaiannya. Selain di negara yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia.

    Bahasa Melayu termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, di wilayah yang sekarang dianggap sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Istilah "Melayu" sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi. Akibat penggunaannya yang luas, berbagai varian bahasa dan dialek Melayu berkembang di Nusantara.

    Sekedar ingin menambah referensi tentang bahasa melayu, berikut adalah kosa kata bahasa melayu yang sering disebutkan oleh orang Melayu kepulauan riau.

    Arkib = arsip
    Angit = bau hangus

    Bedegap = kuat
    Bedelau = cantik
    Begajul = bandel
    Belacan = terasi
    Bengal = keras kepala
    Betik = pepaya
    Bile = kapan
    Bilis = teri
    Bingal = bandel
    Bomo = dukun, tabib, pawang
    Buluh = bambu
    Butang = kancing

    Calar = barut/parut, baret, goresan luka
    Cekau = kelahi
    Cencalok = acar yang terbuat dari teri halus, bawang, cabe
    Cindai = selendang
    Comel = cantik

    Dedah = buka, terbuka, membuka
    Degil = nakal, bandel
    Dikau = kamu

    Gasal = ganjil
    Gerubuk = lemari makan di dapur
    Gubal Sagu = makanan dari sagu yang digumpalkan
    Guli = kelereng

    Habuk = debu (bukan abu arang hasil pembakaran)

    Jolok = mengambil sesuatu dengan tongkat panjang/galah

    Kanun = meriam kecil, gerombolan/pasukan angkatan laut
    Kasut = terompah/sendal
    Kedekut = kikir, sangat pelit
    Kecoh = ribut
    Kemaruk = rakus
    Koret = sisa
    Koret-koret = sisa/mengorek
    Kude-kude = tempat duduk rendah

    Lanun = Perampok di laut, bajak laut
    Lapik = alas tikar
    Lasak = tak diam
    Lawa = cantik/ganteng
    Lempeng sagu = sejenis makanan dari sagu yang dibuat pipih/dadar
    Lokek = pelit (belum mencapai tahap kedekut)
    Longkang = parit/got/comberan
    Lori = truk
    Lucah = keji/kejam, kotor, tidak senonoh

    Marwah = harga diri
    Menyanyah = mengada-ada, berbicara tidak menentu
    Montel = gemuk
    Mustahak = penting, perlu, wajib, harus

    Nyanyok = agak lupa
    Nyiur = kelapa

    Pelasah = hajar
    Pelik = susah, rumit, sulit
    Penyamun = Perampok di darat dan di laut
    Perigi = sumur
    Pinggan = piring
    Pondok-pondok (bukan "pondok" dalam satu kata saja) = rumah-rumahan tanpa dinding
    Puan = perempuan

    Rasuah = sogokan
    Rengut = cemberut
    Resam = adat istiadat

    Selap/Nyelap = berlebihan
    Selipar = sendal
    Seluar = celana
    Sementung = cemberut
    Sempak = celana dalam
    Senarai = daftar, catatan
    Sengak = sombong/angkuh
    Seronok = senang, gembira
    Sotong = cumi-cumi
    Sudu = sendok
    Suluh = lampu

    Tamadun = budaya
    Tambul = makanan ringan
    Tayang = tampar pelan
    Telajak = terlewat
    Tekeng = bandel
    Tembilang/Sembilang/Taji/Baji = alat untuk melobang tanah
    Tempias = percikan air
    Tempoyak = makanan dari durian yang diasamkan
    Teruk = parah, susah, sulit
    Tesasol = tersalah cakap/bicara
    Tingkap = jendela
    Tuah = untung, berkah
    Tungkus lumus = kerja keras

    Zuriat = anak cucu keturunan
                                                                                                      Theory of core malay region
    . Seluruhnya ada 19 keluarga bahasa manusia di planet bumi:

    Alfro-Asiatik Niger-Kongo Nilo-Sahara KhoisaIndo-Eropa Kaukasia Uralic AltaiDravida Sino-Tibet Austronesia Austro-AsiatikPama-Nyugan Papua Tai-Kadai Indian AmerikaNa-Dene Eskimo-Aleut Isolate


    Dapatkah Anda melihat rumpun bahasa Austronesia di antara daftar ...? Ada versi yang berbeda tentang bagaimana mengklasifikasikan bahasa lebih lanjut. Versi Malaysia adalah membagi rumpun bahasa Austronesia dibagi dalam empat divisi: Indonesia, Melanesia, Mikronesia dan Polinesia. Bahasa Melayu merupakan bagian dari divisi terbesar, Indonesia.

    Oh ya, ini sama sekali berbeda dari Formosa dan classificiation Malayo-Polynesia disajikan dalam buku referensi utama. Itu bukan tugas saya untuk sengketa, saya hanya menempel tema website ini dengan menceritakan kisah dari sisi Malaysia.

    Contoh anggota lain di saham Austronesia adalah: Hawaii, Fiji, Malagasi (Madagaskar), Tagalog (Filipina) dan Tetum (Timor Leste) - semua menjadi bahasa resmi di negara masing-masing. Mengamati daerah Austronesia membantu saya untuk bertemu dengan keluarga besar untuk yang Bahasa Malaysia milik.

    peta wilayah Austronesia, peta Rumpun bahasa Austronesiaarea warna kuning menunjukkan di mana mayoritas bahasa-bahasa Austronesia dituturkan
     
     
     

    peta wilayah bahasa melayu, bahasa melayu petaAsia Tenggara keluarga Bahasa Malaysia pada peta "Wilayah Core Melayu"

    _______________________________________________________________________________________

    1.268 penutur bahasa Austronesia kebanyakan terletak di pulau-pulau selatan. Tak heran, nama Austronesia berasal dari Auster Latin "angin selatan" plus "pulau" Nesos Yunani!

    Jawa memiliki jumlah penutur asli terbesar di saham Austronesia, 70 juta diikuti oleh Melayu 40 juta. Namun jika Anda menambahkan angka ini ke 125 juta penutur non-asli, ini membuat orang Melayu bahasa dunia yang paling banyak digunakan setelah Mandarin, Inggris, Hindustani, Spanyol, Rusia, Arab, Bengali dan Portugis.

    Ketika Anda mempersempit ke daerah dimana penutur asli bahasa Melayu terkonsentrasi, Anda datang ke daerah mana Melayu disebut Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu atau Bahasa Malaysia - Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand Selatan, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau sekitarnya terutama daerah-daerah Riau dan Bangka.


    peta wilayah bahasa melayu, bahasa melayu petaAsia Tenggara keluarga Bahasa Malaysia pada peta "Wilayah Core Melayu"

    ________________________________________________________________________

    Teori Area Core Bahasa Melayu

    Saya memiliki waktu yang baik menertawakan berbagai teori tentang bagaimana bahasa Melayu menyebar ke bagian lain di Asia Tenggara. Beberapa orang mengatakan bahasa Melayu bermigrasi dari Taiwan, beberapa mengatakan itu dari Yunnan atau New Guinea dan satu orang bahkan diusulkan Borneo!

    Tapi di sini saya ingin membawa sebuah teori tentang keberadaan suatu lokasi bahasa Melayu inti meliputi wilayah kerajaan Melayu awal, selama beberapa ratus tahun. inti ini diperluas oleh Kesultanan Malaka, influxes tentara sumatera dan penambang, Bugis dan kelompok muslim Austronesia.

    mapof melayu bahasa daerah, peta bahasa melayu
    Teori Daerah Melayu Core
     peta warna kuning menunjukan wilayah penggunaan bahasa-bahasa austronesia dituturkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar