Loading...

Sabtu, 24 April 2010

FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK TANAH

Setelah mempelajari kegiatan belajar 1 ini, Anda diharapkan dapat:
1. membedakan pengertian tanah dan lahan; dan
2. menjelaskan faktor-faktor pembentuk tanah.
Anda sebelumnya telah mempelajari tentang “Hidrosfer” (lapisan air). Materi
lanjutannya adalah tentang “Pedosfer”. Istilah ini mungkin baru Anda dengar, tapi
dengan semangat dan motivasi yang tinggi, Anda dapat memahami konsep-konsep
Pedosfer. Selamat Belajar, sukses selalu!
A. Pengertian Tanah dan Lahan
Anda mungkin bertanya apa hubungan Pedosfer dengan tanah dan
lahan? Pedosfer atau tanah adalah lapisan kulit bumi yang tipis terletak
di bagian paling atas permukaan bumi. Lalu apa bedanya tanah
dengan lahan? Selama ini orang awam beranggapan tanah sama
pengertiannya dengan lahan. Padahal menurut konsep Geografi tanah
dengan lahan memiliki perbedaan yang mendasar.
Tanah dalam Bahasa Inggris disebut soil, menurut Dokuchaev: tanah adalah
suatu benda fisis yang berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam
yang merupakan bagian paling atas dari kulit bumi.
Sedangkan lahan Bahasa Inggrisnya disebut land, lahan merupakan lingkungan
fisis dan biotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan
dan kesejahteraan hidup manusia. Yang dimaksud dengan lingkungan fisis
meliputi relief atau topografi, tanah, air, iklim. Sedangkan lingkungan biotik meliputi
tumbuhan, hewan, dan manusia. Jadi kesimpulannya pengertian lahan lebih luas
daripada tanah.
Bagaimana, apakah Anda telah mengetahui perbedaan tanah dengan lahan!
Coba tuliskan kesimpulanmu pada kertas tersendiri! Sekarang marilah kita pelajari
faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah.
Kegiatan Belajar 1
6
B. Faktor-faktor Pembentuk Tanah
Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi proses pembentukan tanah,
antara lain iklim, organisme, bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor
tersebut dapat dirumuskan dengan rumus sebagai berikut:
T = f (i, o, b, t, w)
Keterangan:
T = tanah b = bahan induk
f = faktor t = topografi
i = iklim w = waktu
o = organisme
Faktor-faktor pembentuk tanah tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1. Iklim
Unsur-unsur iklim yang mempengaruhi proses pembentukan tanah terutama
ada dua, yaitu suhu dan curah hujan.
a. Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila
suhu tinggi, maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga
pembentukan tanah akan cepat pula.
b. Curah hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian
tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah
menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).
2. Organisme (Vegetasi, Jasad renik/mikroorganisme)
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam
hal:
a. Membuat proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan
kimiawi.
Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup
(hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi adalah pelapukan
yang terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur larut oleh air.
b. Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan
dan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di
permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan
jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.
7
c. Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di
daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan
dapat membentuk tanah. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan
dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah
berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organis yang berasal
dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
d. Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh
terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis cemara akan memberi unsurunsur
kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di
bawah pohon cemara derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah
di bawah pohon jati.
3. Bahan Induk
Bahan induk terdiri dari batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen
(endapan), dan batuan metamorf.
Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami
pelapukan dan menjadi tanah.
Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat
(terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induknya
masih terlihat misalnya tanah berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang
kandungan pasirnya tinggi. Susunan kimia dan mineral bahan induk akan
mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan vegetasi diatasnya. Bahan
induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah dengan
kadar ion Ca yang banyak pula sehingga dapat menghindari pencucian asam
silikat dan sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu.
Sebaliknya bahan induk yang kurang kandungan kapurnya membentuk tanah
yang warnanya lebih merah.
4. Topografi/Relief
Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:
a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih
tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal
karena terjadi sedimentasi.
b. Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan
tanahnya menjadi asam.
8
5. Waktu
Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan
dan pencucian yang terus menerus. Oleh karena itu tanah akan menjadi
semakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah
habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti
kuarsa.
Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka induk tanah
berubah berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
Untuk jelasnya lihat gambar berikut:
Gambar 1. Tingkat-tingkat perkembangan tanah
Penjelasan
Tanah Muda ditandai oleh proses pembentukan tanah yang masih tampak
pencampuran antara bahan organik dan bahan mineral atau masih tampak
struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah aluvial, regosol
dan litosol.
Tanah Dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah muda
dapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukan
horison B. Contoh tanah dewasa adalah andosol, latosol, grumosol.
Tanah Tua proses pembentukan tanah berlangsung lebih lanjut sehingga
terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada horizon-horoson A
dan B. Akibatnya terbentuk horizon A1, A2, A3, B1, B2, B3. Contoh tanah pada
tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit).

Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbeda-beda.
Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memerlukan
waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda, dan 1000 – 10.000 tahun
untuk membentuk tanah dewasa. Secara ringkas faktor-faktor pembentuk
tanah digambarkan seperti berikut:
Gambar 2. Faktor-faktor pembentuk tanah
Agar Anda lebih memahami uraian materi tersebut, kerjakanlah latihan soal
berikut!
Carilah hubungan antara dua aspek yang terdapat pada kolom sebelah kiri dengan
kolom sebelah kanannya dengan cara memberi tanda ceklist (“)
I.
No. Aspek-aspek yang terkait Tanah Lahan
1. Lapisan bumi tipis yang terletak di bagian
paling atas
2. Pengertian land
3. Pengertian soil
4. Dibutuhkan untuk pendirian pabrik
5. Media untuk berkembangnya tanaman
Organisme
Bahan
Induk
Tanah
Relief
(Topografi)
Iklim
Waktu
10
II.
No. Sub faktor yang Organisme Bahan Iklim Topografi Waktu
berpengaruh Induk
1. Curah hujan dan suhu
2. Perubahan induk tanah
3. Tebal/tipisnya lapi-san tanah
4. Batuan vulkanik, beku,
sediment
5. Membantu proses
pertumbuhan humus
Setelah Anda jawab, coba cocokkan dengan kunci jawaban berikut:
I. 1. tanah II. 1. iklim
2. lahan 2. waktu
3. tanah 3. topografi
4. lahan 4. bahan induk
5. tanah 5. organisme
Apabila jawaban Anda yang benar kurang dari 7, coba ulangi lagi memahami
uraian materi tersebut, dan apabila benarnya tujuh atau lebih, silahkan
mempelajari materi berikutnya!
Kosa Kata
Soil : tanah
Land : lahan
Fisis : benda-benda mati di sekitar kita
Biotik : benda hidup
Abiotik : benda mati
Relief : tinggi rendahnya permukaan bumi
Topografi : ketinggian tempat atau lereng
Vegetasi : tumbuhan
Jasad renik/
Mikroorganisme : makhluk hidup yang ukurannya sangat kecil
Organisme : makhluk hidup
Pelapukan : penghancuran batuan
11
TUGAS 1
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat!
1. Jelaskan perbedaan lahan dengan tanah!
2. Sebutkan faktor-faktor pembentuk tanah!
3. Jelaskan ciri perbedaan tanah muda dengan tanah tua!

JENIS-JENIS TANAHDI INDONESIA
Seteleh mempelajari kegiatan belajar 2 ini, Anda diharapkan dapat
menjelaskan jenis-jenis tanah yang terdapat di Indonesia.
Anda tentu mengetahui dan memperhatikan bahwa jenis tanah yang
terdapat di permukaan bumi berbeda-beda antara satu tempat dengan
tempat lainnya. Pada uraian materi ini akan dibahas jenis-jenis tanah
yang terdapat di Indonesia. Selamat belajar semoga sukses!
Jenis tanah yang terdapat di Indonesia bermacam-macam, antara lain:
1. Organosol atau Tanah Gambut atau Tanah Organik
Jenis tanah ini berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau
rumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas,
ketebalan lebih dari 0.5 meter, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu
lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik
lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah
tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH 4.0), kandungan unsur hara
rendah.
Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga
yaitu:
a. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan
0.5 – 16 meter, terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir
selalu tergenang air, bersifat sangat asam. Contoh penyebarannya di daerah
dataran pantai Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua);
b. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa
di daerah dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan
rawa, ketebalan 0.5 – 6 meter, bersifat agak asam, kandungan unsur hara
relatif lebih tinggi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah),
Rawa Lakbok (Ciamis, Jawa Barat), dan Segara Anakan (Cilacap, Jawa
Tengah); dan
c. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari
sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh
penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng.
Kegiatan Belajar 2
14
Berdasarkan susunan kimianya tanah gambut dibedakan menjadi:
a. gambut eutrop, bersifat agak asam, kandungan O2 serta unsur haranya lebih
tinggi;
b. gambut oligotrop, sangat asam, miskin O2 , miskin unsur hara, biasanya selalu
tergenang air; dan
c. mesotrop, peralihan antara eutrop dan oligotrop.
2. Aluvial
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan
induk aluvium, tekstur beraneka ragam, belum terbentuk struktur , konsistensi
dalam keadaan basah lekat, pH bermacam-macam, kesuburan sedang hingga
tinggi.
Penyebarannya di daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan
daerah cekungan (depresi).
3. Regosol
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi horizon, tekstur pasir,
struktur berbukit tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan
sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik piroklastis atau pasir pantai.
Penyebarannya di daerah lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan
gumuk-gumuk pasir pantai.
4. Litosol
Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil, batuan induknya batuan
beku atau batuan sedimen keras, kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan
kadang-kadang merupakan singkapan batuan induk (outerop). Tekstur tanah
beranekaragam, dan pada umumnya berpasir, umumnya tidak berstruktur,
terdapat kandungan batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi.
Tanah litosol dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi berbukit,
pegunungan, lereng miring sampai curam.
5. Latosol
Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi horizon, kedalaman
dalam, tekstur lempung, struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur
hingga agak teguh, warna coklat merah hingga kuning.
Penyebarannya di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 – 1000
meter, batuan induk dari tuf, material vulkanik, breksi batuan beku intrusi.
15
6. Grumosol
Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil, agak tebal, tekstur lempung
berat, struktur kersai (granular) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di lapisan
bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan plastis, bila kering sangat keras
dan tanah retak-retak, umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas
absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Jenis ini berasal dari batu
kapur, mergel, batuan lempung atau tuf vulkanik bersifat basa.
Penyebarannya di daerah iklim sub humid atau sub arid, curah hujan kurang
dari 2500 mm/tahun.
7. Podsolik Merah Kuning
Tanah mineral telah berkembang, solum (kedalaman) dalam, tekstur lempung
hingga berpasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, bersifat agak asam (pH kurang
dari 5.5), kesuburan rendah hingga sedang, warna merah hingga kuning,
kejenuhan basa rendah, peka erosi. Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa,
tuf vulkanik, bersifat asam. Tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering,
curah hujan lebih dari 2500 mm/tahun.
8. Podsol
Jenis tanah ini telah mengalami perkembangan profil, susunan horizon terdiri
dari horizon albic (A2) dan spodic (B2H) yang jelas, tekstur lempung hingga pasir,
struktur gumpal, konsistensi lekat, kandungan pasir kuarsanya tinggi, sangat
masam, kesuburan rendah, kapasitas pertukaran kation sangat rendah, peka
terhadap erosi, batuan induk batuan pasir dengan kandungan kuarsanya tinggi,
batuan lempung dan tuf vulkan masam.
Penyebaran di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun
tanpa bulan kering, topografi pegunungan. Daerahnya Kalimantan Tengah,
Sumatra Utara dan Irian Jaya (Papua).
9. Andosol
Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak
tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi,
tekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin
berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan
basa tinggi dan daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang
dan peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk abu atau tuf vulkanik.
16
10. Mediteran Merah – Kuning
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang hingga dangkal, warna
coklat hingga merah, mempunyai horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung,
struktur gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah, pH netral hingga
agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya absorpsi sedang, permeabilitas sedang
dan peka erosi, berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf vulkanis
bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub humid, bulan kering nyata.
Curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi
Karst dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah mediteran
merah – kuning di daerah topografi Karst disebut terra rossa.
11. Hodmorf Kelabu (gleisol)
Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu
topografi merupakan dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang
air, solum tanah sedang, warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga
lempung, struktur berlumpur hingga masif, konsistensi lekat, bersifat asam (pH
4.5 – 6.0), kandungan bahan organik. Ciri khas tanah ini adanya lapisan glei
kontinu yang berwarna kelabu pucat pada kedalaman kurang dari 0.5 meter
akibat dari profil tanah selalu jenuh air.
Penyebaran di daerah beriklim humid hingga sub humid, curah hujan lebih dari
2000 mm/tahun.
12. Tanah sawah (paddy soil)
Tanah sawah ini diartikan tanah yang karena sudah lama (ratusan tahun)
dipersawahkan memperlihatkan perkembangan profil khas, yang menyimpang
dari tanah aslinya. Penyimpangan antara lain berupa terbentuknya lapisan bajak
yang hampir kedap air disebut padas olah, sedalam 10 – 15 cm dari muka tanah
dan setebal 2 – 5 cm. Di bawah lapisan bajak tersebut umumnya terdapat lapisan
mangan dan besi, tebalnya bervariasi antara lain tergantung dari permeabilitas
tanah. Lapisan tersebut dapat merupakan lapisan padas yang tak tembus
perakaran, terutama bagi tanaman semusim. Lapisan bajak tersebut nampak
jelas pada tanah latosol, mediteran dan regosol, samara-samar pada tanah aluvial
dan grumosol.
Gambar 3.
Pematang sawah
17
Agar Anda lebih memahami materi pelajaran tersebut, jawablah soal-soal latihan
berikut ini dengan cara menjodohkan penjelasannya di kolom sebelah kiri dengan
jawaban tepatnya di sebelah kolom kanan cukup membubuhkan huruf saja!
No. Ciri-Ciri dan Sifat-Sifat Tanah Jenis Tanah
1. Menyimpang dari tanah aslinya, terbentuk lapisan
padas olah dan lapisan bajak yang kedap air a. aluvial
2. Berasal dari batuan pasir kuarsa, tuf vulkanik, bersifat
asam, solum dalam b. litosol
3. Jenis tanah masih muda, kesuburan cukup tinggi,
belum terbentuk struktur c. paddy soil
4. Tanah telah berkembang/terjadi deferensiasi horizon,
tekstur lempung, warna coklat hingga kuning d. mediteran
merah kuning
5. Tanah ini masih muda, kesuburan sedang, berasal
dari bahan induk material vulkanik piroklastis e. latosol
6. Sering dijumpai di topografi berbukit, lereng
miring/curam, terdapat kandungan batu, kerikil f. podsolik
merah kuning
7. Memiliki kandungan organik tinggi, solum tebal,
berasal dari batuan induk abu/tuf vulkanik g. regosol
8. Tanah yang disebut terra rossa, warna coklat hingga
merah, di daerah beriklim sub humid h. andosol
Setelah Anda jawab dengan tidak melihat kunci jawaban (jujur), cocokkan
jawabannya. Apabila Anda benarnya di bawah 6, belajarlah sekali lagi.
1. C 5. G
2. F 6. B
3. A 7. H
4. E 8. D
KOSA KATA
Horison tanah : lapisan tanah yang letaknya atau sejajar dengan permukaan tanah
Solum : kedalaman tanah
Arid : daerah kurang hujan
Humid : daerah lembab
Tuff : bahan vulkanik yang membatu dan menjadi butiran
Intrusi : resapan/penyusupan
Absorpsi : penyerapan
Karst : kapur
Permeabilitas : dapat ditembus air

TUGAS 2
Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat dan ringkas!
1. Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang tanah gambut?
2. Apakah bedanya tanah gambut ombrogen dengan gambut topogen menurut
topografinya?
3. Jelaskan tanah aluvial, dan dimana penyebarannya?

PENYEBAB TERJADINYA KERUSAKAN TANAH
DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN
Setelah mempelajari kegiatan belajar 3 ini, Anda diharapkan dapat:
1. menyebutkan penyebab kerusakan tanah; dan
2. dampak kerusakan tanah terhadap kehidupan.
Seperti halnya terhadap benda-benda lain, tanah juga termasuk wujud
alam yang mudah mengalami kerusakan. Kerusakan tanah akan
dijelaskan pada uraian berikut ini. Selamat belajar!
1. Penyebab Kerusakan Tanah
Kerusakan tanah dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
a. Perusakan hutan
Akibat dari hutan yang rusak dapat mengurangi daya serap tanah dan
mengurangi kemampuannya dalam menampung dan menahan air, sehingga
tanah mudah tererosi.
b. Proses kimiawi air hujan
Air hujan merupakan faktor utama terjadinya kerusakan tanah melalui proses
perubahan kimiawi dan sebagian lagi karena proses mekanis.
c. Proses mekanis air hujan
Air hujan yang turun sangat deras dapat mengikis dan menggores tanah di
permukaannya sehingga bisa terbentuk selokan. Pada daerah yang tidak
bervegetasi, hujan lebat dapat menghanyutkan tanah berkubik-kubik. Air hujan
dapat pula menghanyutkan lumpur sehingga terjadi banjir lumpur.
d. Tanah longsor
Tanah longsor adalah turunnya atau ambruknya tanah dan bebatuan ke
bawah bukit. Hujan mempercepat longsornya tanah karena tanah menjadi
longgar dan berat. Pelongsoran hanya terjadi pada lapisan luar yang terlepas
dari permukaan tanah.
e. Erosi oleh air hujan
Pergerakan tanah dapat disebabkan oleh air hujan, misalnya tanah labil yang
ada di pinggir-pinggir sungai apabila tertimpa hujan lebat akan lepas dan
jatuh ke sungai.
Kegiatan Belajar 3

f. Kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran.
g. Terkumpulnya garam di daerah perakaran (salinisasi).
h. Penjenuhan tanah oleh air (waterlogging) dan erosi.
2. Dampak Kerusakan Tanah terhadap Kehidupan
Kerusakan tanah yang utama adalah akibat erosi. Erosi tidak hanya menyebabkan
kerusakan tanah di tempat erosi, tetapi juga kerusakan-kerusakan di tempat lain
yaitu hasil-hasil erosi tersebut diendapkan.
a. Kerusakan di tempat terjadinya erosi
Kerusakan tanah di tempat terjadinya erosi terutama akibat hilangnya
sebagian tanah dari tempat tersebut karena erosi. Hilangnya sebagian tanah
ini mengakibatkan hal-hal berikut:
1) penurunan produktifitas tanah;
2) kehilangan unsur hara yang diperlukan tanaman;
3) kualitas tanaman menurun;
4) laju infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air berkurang;
5) struktur tanah menjadi rusak;
6) lebih banyak tenaga diperlukan untuk mengolah tanah;
7) erosi gully dan tebing (longsor) menyebabkan lahan terbagi-bagi dan
mengurangi luas lahan yang dapat ditanami; dan
8) pendapatan petani berkurang.
Gambar 4. Erosi
b. Kerusakan di tempat penerima hasil erosi
Erosi dapat juga menyebabkan kerusakan-kerusakan di tempat penerima
hasil erosi. Erosi memindahkan tanah berikut senyawa-senyawa kimia yang
ada di dalamnya seperti unsur-unsur hara tanaman (N,P, bahan organik dan
sebagainya) atau sisa-sisa pestisida dan herbisida (DDT, Endrin dan lainlain).

Pengendapan bahan-bahan tanah berikut senyawa-senyawa kimia yang
dikandungnya dapat dikatakan sebagai polusi (pencemaran) di tempat tersebut.
Pencemaran yang disebabkan oleh bahan-bahan padat tanah disebut “polusi
sedimen”, sedangkan pencemaran oleh senyawa-senyawa kimia yang ada di
dalam tanah disebut “polusi kimia”. Polusi kimia dari tanah dapat dibedakan
menjadi polusi kimia dari unsur hara (pupuk) dan polusi kimia dari pestisida/
herbisida.
Polusi sedimen: adalah pengendapan bahan tanah yang tererosi ke tempat lain.
Pengendapan ini dapat menyebabkan:
- Pendangkalan sungai sehingga kapasitas sungai menurun. Akibatnya
menambah terjadinya banjir, apalagi kalau banyak air mengalir sebagai aliran
permukaan (run off) karena hilangnya vegetasi di daerah hulu.
- Tanah-tanah yang subur kadang-kadang menjadi rusak karena tertimbun
oleh tanah-tanah kurus atau batu-batuan, pasir, kerikil dari tempat lain.
- Apabila digunakan untuk air minum, air yang kotor itu perlu lebih banyak
biaya untuk membersihkannya.
- Karena air yang keruh, maka mengurangi fotosintesis dari tanaman air (karena
sinar matahari sulit menembus air).
- Perubahan-perubahan dalam jumlah bahan yang diangkut mempengaruhi
keseimbangan sungai tersebut. Apabila terjadi pengendapan di suatu dam,
maka air yang telah kehilangan sebagian dari bahan yang diangkutnya
tersebut akan mencari keseimbangan baru dengan mengikis dasar saluran
atau pondasi dari dam tersebut sehingga menyebabkan kerusakan.
- Kadang-kadang polusi sedimen dapat memberi pengaruh baik yaitu bila terjadi
pengendapan tanah-tanah subur, misalnya tanah-tanah aluvial di sekitar
sungai.
Polusi kimia dari pupuk. Polusi kimia dari pupuk merupakan polusi unsur-unsur
hara tanaman. Tanah-tanah yang dipindahkan oleh erosi pada umumnya
mengandung unsur hara lebih tinggi daripada tanah yang ditinggalkannya. Hal
ini disebabkan lapisan tanah yang tererosi umumnya adalah lapisan atas yang
subur.
Disamping itu fraksi tanah yang halus (debu) lebih mudah tererosi oleh karena
itu unsur hara dari pupuk terutama “P” sebagian besar diserap butir-butir tanah
tersebut maka banyak unsur “P” yang hilang karena erosi. Disamping itu sebagian
besar “P” dalam tanah sukar larut sehingga P diangkut ke tempat lain bersama
bagian-bagian padat dari tanah. Unsur-unsur hara yang mudah larut seperti
Nitrogen (Nitrat), umumnya diangkut ke tempat lain bersama dengan aliran
permukaan (run off) atau air infiltrasi (peresapan).
- Polusi unsur hara N dan P pada air irigasi memberi akibat baik karena dapat
menyuburkan tanaman.
- Polusi N pada air minum dapat membahayakan kesehatan. Misalnya terlalu
banyak Nitrat akan menyebabkan penyakit pada bayi yang dikenal dengan
nama Metahemoglobinemia.
22
- Polusi unsur hara di danau dapat mengganggu keseimbangan biologis. Danau
yang tadinya miskin unsur hara (oligotropik) diperkaya dengan unsur P dan
unsur hara lain sehingga kesuburannya meningkat menjadi sedang
(mesotropik), dan seterusnya menjadi subur (eutropik). Proses ini disebut
proses eutrofikasi.
Sebagai akibat proses eutrofikasi ini maka terjadilah perkembangan algae yang
sangat banyak (algae bloom), sehingga mengurangi tersedianya oksigen bagi
ikan dan makhluk lain yang hidup dalam air tersebut. Selain itu air yang penuh
algae akan mempunyai rasa dan bau yang tidak enak untuk keperluan air minum.
Pencegahan polusi unsur hara yang terbaik adalah dengan cara pemberian pupuk
sedemikian rupa sehingga semua unsur hara dapat diserap tanaman. Dalam
prakteknya hal demikian tidak mungkin dapat dilakukan sehingga dianjurkan
penanggulangan yang lebih praktis yaitu dengan cara mencegah terjadinya erosi
dan run off yang berlebihan dengan menggunakan kaidah-kaidah pengawetan
tanah dan air.
Polusi kimia oleh bahan-bahan pestisida. Pestisida dapat digolongkan menjadi
dua golongan besar yaitu pestisida yang mudah larut (hancur) dan pestisida
yang sukar hancur. Golongan yang sukar hancur (larut) merupakan polusi
pestisida yang utama. Disamping sukar larut jenis pestisida ini diserap oleh butirbutir
tanah halus seperti halnya unsur P sehingga lebih banyak terangkut ke
tempat lain bersama tanah-tanah yang tererosi. Seperti halnya unsur hara, polusi
pestisida banyak menimbulkan masalah pada persediaan air, terutama
mengganggu pada bidang kesehatan.
Ada hal yang perlu diketahui yaitu terjadinya proses biomagnification melalui
siklus rantai makanan untuk beberapa jenis pestisida terutama yang dapat diserap
dengan kuat dalam jaringan tubuh seperti DDT. Dengan proses ini pestisida
yang mula-mula berkonsentrasi sangat kecil yang tidak membahayakan lalu
semakin banyak dan menjadi fatal (dapat menyebabkan kematian).
Pencegahan terjadinya polusi pestisida dapat dilakukan dengan membatasi
penggunaan pestisida yang banyak menimbulkan residu seperti DDT, Aldrin,
Dieldrin, dan sebagainya. Pencegahan yang paling baik sudah barang tentu
mencegah terjadinya erosi dari sumbernya. Dengan cara ini maka pestisida dan
unsur hara yang terikat dalam butir-butir tanah (DDT, Aldrin, Dieldrin) dapat
dicegah untuk tidak menjadi sumber polusi. Unsur hara dan pestisida yang mudah
larut masih dapat mengalir ke tempat lain bersama air run off dan infiltrasi,
tetapi sumber polusi jenis ini tidak terlalu begitu membahayakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar