Kamis, 04 November 2010

Muka Bumi


 
Susunan bumi adalah kompleks. Pada waktu  ini  secara  kasar
sekali  kita  dapat  mengatakan  bahwa  bumi  itu  mempunyai
lapisan dalam; temperatur disitu sangat tinggi khususnya  di
bagian  tengah  di mana batu-batu masih cair. Adapun lapisan
atas atau  kulit  bumi  merupakan  lapisan  yang  keras  dan
dingin.  Lapisan atas itu sangat tipis, hanya setebal antara
beberapa kilometer  dan  beberapa  puluh  kilometer;  sedang
poros  bumi  itu  lebih  dari 6.000 kilometer. Dengan begitu
maka kulit bumi, rata-rata tidak sampai  1/100  poros  bumi.
Dalam batas 1/100 inilah fenomena-fenomena geologi terjadi.
 
Yang   paling  dasar  daripada  perubahan-perubahan  geologi
adalah lipatan yang asalnya adalah rangkaian  gunung-gunung.
Terbentuknya  lipatan-lipatan  itu  dalam  geologi dinamakan
"orogenese." Proses ini penting sekali karena setelah nampak
relief  (pemunculan) yang akan membentuk gunung terjadi pula
gerakan kearah kedalam yang proporsional dengan  kulit  bumi
yang  menjamin  tempat  duduknya gunung itu dalam lapisan di
bawahnya.
 
Sejarah tentang pembagian muka bumi menjadi tanah dan lautan
adalah  hasil  penyelidikan  yang masih baru dan masih belum
sempurna, walaupun yang mengenai periode yang  tidak  sangat
kuno  tetapi  yang lebih banyak diketahui. Sangat boleh jadi
bahwa timbulnya  lautan  (hidrosfir)  terjadi  l/2  milliard
tahun  yang  lalu.  Mula-mula  semua  benua  merupakan  satu
kesatuan pada "Zaman Pertama" dan  kemudian  terserak-serak.
Di  lain pihak ada benua-benua atau bagian benua yang muncul
sebagai akibat terjadinya gunung dalam daerah laut  (seperti
benua  Atlantik  Utara  dan  sebagian dari Europa -- menurut
pandangan Sains modern).
 
Yang mempunyai pengaruh besar dalam sejarah pembentukan bumi
adalah   munculnya   rangkaian   gunung-gunung.   Para  ahli
mengelompokkan semua  evolusi  bumi,  dari  periode  pertama
sampai  periode  keempat dengan mengambil pedoman dari tahap
orogenik  (gunung-gunung)  dan   tahap-tahap   ini   sendiri
dikelompokkan dalam siklus-siklus orogenik, karena tiap-tiap
munculnya  relief  gunung  akan  mempengaruhi   keseimbangan
antara  lautan  dan  benua.  Munculnya  gunung-gunung  telah
menghilangkan  beberapa  bagian   bumi   yang   tinggi   dan
menumbuhkan   bagian-bagian  yang  baru  dan  telah  merubah
pembagian  udara  laut  dan   udara   kontinental   semenjak
beratus-ratus  juta tahun. Udara kontinental hanya mengambil
tempat 3/10 dari seluruh muka bumi.
 
Dengan cara tersebut di atas kita dapat menyimpulkan  secara
sangat tidak sempurna perubahan-perubahan yang terjadi dalam
beberapa ratus juta tahun yang lalu.
 
Adapun yang mengenai relief bumi, Qur-an  hanya  menyinggung
terbentuknya gunung-gunung. Sesungguhnya dari segi yang kita
bicarakan di sini, hanya sedikit yang  dapat  kita  katakan;
yaitu  ayat-ayat  yang  menunjukkan  perhatian  Tuhan kepada
manusia dalam hubungannya dengan terbentuknya  bumi  seperti
dalam:
 
Surat 71 ayat 19, 21:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai
          hamparan supaya kamu menempuh jalan-jalan yang
          luas di bumi itu."
 
Surat 51 ayat 48 :
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik
          yang menghamparkan adalah Kami."
 
(Permadani) yang digelar  (dihamparkan)  adalah  kulit  bumi
yang   keras  yang  di  atasnya  kita  dapat  hidup.  Adapun
lapisanlapisan di bawah adalah sangat panas,  cair  dan  tak
sesuai  dengan  kehidupan.  Ayat-ayat  Qur-an  yang mengenai
gunung-gunung serta  isyarat-isyarat  tentang  stabilitasnya
karena akibat fenomena lipatan adalah sangat penting.
 
Surat 88 ayat 19, 20:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan,
          Dan bumi bagaimana ia dihamparkan."
 
Konteks ayat mengajak orang-orang yang tidak beragama  untuk
melihat  fenomena-fenomena  alamiah.  Ayat-ayat di bawah ini
menjelaskan lebih lanjut:
 
Surat 78 ayat 6, 7:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai
          hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak."
 
Orang-orang yang beragama itu  memakai  (autad,  kata  jamak
dari watad) untuk menetapkan tenda di atas tanah.
 
Para  ahli  geologi  modern menggambarkan lipatan tanah yang
mengambil tempat duduk di atas relief, dan  yang  dimensinya
berbeda-beda sampai beberapa kilometer bahkan beberapa puluh
kilometer. Daripada fenomena lipatan inilah kulit bumi dapat
menjadi stabil.
 
Karena  hal-hal  tersebut  di  atas  kita  tidak  heran jika
membaca Qur-an dan mendapatkan  pemikiran-pemikiran  tentang
gunung-gunung seperti berikut:
 
Surat 79 ayat 32:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan gunung-gunung dipancangkanNya dengan teguh."
 
Surat 31 ayat 10:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dia meletakkan gunung-gunung di (permukaan) bumi
          supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu."
 
Kata-kata tersebut diulangi lagi dalam  surat  16  ayat  15.
Idea  yang  sama diterangkan dengan cara yang agak berlainan
dalam surat 21 ayat 31:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung
          yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama
          mereka. "
 
Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa cara gunung-gunung  itu
diletakkan adalah sangat menjamin stabilitasnya, dan hal ini
sangat sesuai dengan penemuan-penemuan geologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar