Loading...

Selasa, 09 November 2010

Ki Sunda di Tatar Sunda (Indonesia)

Di tulisan ini akan diterangkan data dan logika yang telah ditemukan, untuk mempermudah jalan pemikiran pembaca mengenai perjalanan sejarah atau riwayat Ki Sunda di zaman dahulu terus ke zaman sekarang, ditutup ke zaman ini dan kedepannya.
Ki Sunda disebut juga dengan Aki Sunda. Kalau orang yang disebut ‘aki’ adalah orang yang sudah ‘mengerti’, atau sudah penuh penemuannya, banyak pengalamannya. Malah ada yang sudah sampai mendalam dan luas artinya sudah dapat membaca sedalam-dalamnya yang tidak terjangkau dengan orang pada umumnya. Ada istilah susunan tingkatan pengetahuan orang yaitu wong, siwong dan wastu-siwong. Wong adalah tingkat orang yang harus dinasehati, masih menggunakan kepamalian. Siwong adalah tingkat orang yang sudah tidak perlu dinasehati, karena sudah tahu dan mengerti pamali. Wastu siwong adalah tingkat orang yang sudah bisa menasehati.
Jadi kita jangan berpikiran bahwa Ki Sunda adalah seseorang, tapi yang harus dicari adalah jejak langkah yang ditinggalkan pada kita yang masih hidup. Yang ditinggalkan oleh Ki Sunda diantaranya berhubungan dengan penanggalan, karawitan, aksara Sunda, bahasa Sunda, wawasan Ki Sunda dalam berbagai bidang kehidupan. Hal-hal tersebut akan menjadi pembahasan kita.
Menggunakan sejarah atau riwayat Sunda, dimulai oleh jaman yang tidak diperoleh ahli sejarah resmi, sebab para ahli sejarah resmi banyak pembatasannya. Yang termasuk dalam sejarah data hanya tertulis, kalau sejarah aksara yang dipakai menulis termasuk dalam sejarah. Hal yang biasa-biasa saja tidak dianggap tulisan, di ukur hanya tanda-tanda. Apalagi hal bahasa tidak diterima dalam sejarah. Padahal yang dibicarakan semua menggunakan bahasa.
Dalam tulisan yang asal-asalan seperti itu tidak dianggap. Bagaimana biasanya orang menulis kalau tidak membuat aksara dan alat tulisnya. Orang dapat menuliskan apa bila tak ada bahasanya. Jadi sebelumnya orang berpikir sebelum menulis. Akhirnya juga harus sudah bisa bicara dahulu. Malah sudah ada tata bahasanya segala, berpikir menertibkan bahasa sekarang. Jadi apa salahnya bila menuliskan perkara sejarah didahulukan yang seperti itu.
Berpikir Ki Sunda, data-data ini sudah ada. Peninggalan Ki Sunda yang pertama yang abadi adalah : Tatar Sunda, Budaya Sunda, Bahasa Sunda, Aksara Sunda, Karawitan Sunda, Penanggalan Sunda dengan Sejarah Sunda.
Demikianlah pendahuluan ini.
Bandung, 23 Mei 2000
AS.
Isi
Tatar Sunda
Sejarah Sunda
Bahasa Sunda
Karawitan Sunda
Aksara Sunda
Penanggalan Sunda
Budaya Sunda
T a t a r     S u n d a
Menurut sejarah menerangkan Tatar Sunda dahulu sudah ada yang disebut peta. Memang sebenarnya peta sejarah dengan peta sekarang tidaklah sama, tapi daripada menerangkan yang tidak jelas, lebih baik menggunakan peta yang ada saja.
Dahulu jumlah orang masih sedikit, jadi yang disebut negara hanya dibatasi oleh laut, oleh sungai besar dengan hutan belantara yang tak pernah didatangi orang, Sekarang batas negara kita dalam sejarah pertamanya, di jaman kita Eropa menjajah negara-negara Asia dan Afrika. Negara kita dijajah oleh Belanda, dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi sebelum dijajah Belanda, bangsa Portugis yang pertama kali berkelana di wilayah kita. Mereka mencatat nama-nama tempat yang sudah didatanginya. Dalam catatan itu pulau-pulau yang didatangi ditanyakan mereka, para penghuni pulau menjawabnya Sunda. Portugis mencatat hal tersebut, kepulauan semua ini disebut Kepulauan Sunda. Lantaran pulau-pulau yang berada di sebelah barat merupakan pulau yang besar, disebut Kepulauan Sunda Besar (mayor). Kalau pulau-pulau yang disebelah timur merupakan pulau-pulau kecil disebut kepulauan Sunda Kecil (minor). Akhirnya juga nama-nama itu yang dicatat dalam bahasa Portugis, kemudian orang Belanda menerjemahkan dengan bahasa Belanda menjadi Sunda Eilanden (kepulauan Sunda), yang dibangun dengan Grote Sunda Eilanden dengan Kleine Sunda Eilanden.
Sunda Eilanden atau Kepulauan Sunda ini yang selanjutnya dinamakan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tapi ilmuan Jerman memberi nama Indo-nesos (Indo=Hindia, Nesos = Nusa, Kepulauan, Benua). Dinamakanlah menjadi Indonesia.
Yang bercanda ada yang menulis Indonesia dengan tulisan Arab, jadi dibalik membacanya (aiSeNoDni), di aksara ini dibaca biasa dengan cara latin (ieu SuNDa na). Jadi maksudnya Indonesia juga Sunda-Sunda juga.
Keterangan dalam sejarah yaitu waktu raja Tarumanegara diganti oleh Sri Maharaja Tarusbawa Dharmawaskita Manunggaljaya Sunda Sambawa, negara yang nama sebelumnya Tarumanegara diganti menjadi negara Sunda. Kejadian ini tepatnya pada hari Radite Pon (Senin Pon), tanggal 09 suklapaksa, bulan Yetsa (bulan ke 8), tahun 591 Caka Sunda. Tanggal ini sama dengan 31 Oktober 695 Masehi Julian.
Jadi tanah yang benar-benar ditempati oleh orang Sunda yang biasa disebut Tatar Sunda yaitu dalam sejarah disebut Jawa Barat. Tapi ketika Islam masuk ke dalam Tatar Sunda ini mereka merebut Cirebon, Banten dan Sunda Kelapa (sejarah Jakarta) ketika diIslamkan jadi bawahan kerajaan Islam Demak. Sesudah dijajah oleh Belanda (Nederlands Indie di tahun 1800 M, bukan waktu jaman VOC) Tatar Sunda jadi provinsi West Java (Jawa barat atau Jawa Kulon), yang dibangun dengan 5 keresidenan : Banten, Buitenzorg (Bogor), Batavia, Cirebon, Priangan.
Keresidenan Banten dibangun oleh Kabupaten Serang. Pandeglang dengan Lebak. Keresidenan Buitenzorg (Bogor) dibangun oleh Kabupaten Buitenzorg (Bogor). Sukabumi dengan Cianjur. Keresidenan Batavia dibangun oleh Kabupaten Tangerang, Batavia, Bekasi, Karawang, Purwakarta dan Subang. Batavia menjadi ibukota negara. Keresidenan Cirebon dibangun oleh Kabupaten Indramayu. Kuningan dan Majalengka. Keresidenan Priangan dibangun oleh Kabupaten Bandung, Sumedang, Garut, Tasik dan Ciamis. Bandung ada Kabupaten dengan adanya Keresidenan jaman Jepang disebut Bandungsi.
Pada jaman peralihan yaitu jaman RIS (Republik Indonesia Serikat), Tatar Sunda namanya Negara Pasundan. Sesudah RIS bubar balik lagi ke nama Jawa Barat yang suka disingkat menjadi Jabar.
Sesudah Indonesia merdeka, Batavia diganti menjadi Jakarta dijadikan DCI (Daerah Chusus Ibukota) yang jadi propinsi mandiri. Jadi dari dulu ada perobahan. Keresidenan ditiadakan, tinggal Kabupaten dan Kotapraja. Kotapraja diganti jadi Kotamadya. Propinsi disebut DT-I (Daerah Tingkat I), Kabupaten dan Kotamadya disebut DT-II (Daerah Tingkat II), Kecamatan disebut DT-III (Daerah Tingkat III), dari sana terus ke Desa atau Kelurahan. Kalau memakai istilah DT jadi DT-IV. Terus ke RW (Rukun Warga), jadi DT-V. Ditutup oleh RT (Rukun Tetangga), jadi DT-VI, Pusat jadi DT-O, jadi jumlah tingkatan daerah ada 7, dari 0 sampai ke 6.
Kalau jaman dahulu, orang yang pindah tempat dari tempat asalnya disebut ngababakan (komplek). Malah istilah ngababakan ditambahkan dengan nama tempat asalnya, misalnya Babakan Ciamis yang ada di Kota Bandung, artinya orang Ciamis yang ngababakan (berkompleks) di Bandung. Ngababakan artinya diam sementara waktu. Mula-mula ngababakan itu karena ingin bertani di tempat yang agak jauh, tapi harus memiliki tempat tinggal. Jadi disebut ngababakan waktu menggarap tanah, menanam sampai membersihkan rumput. Selanjutnya yang bertani balik ke kampung halamannya, karena nanti pada waktunya panen sampai mengangkut hasil panen ke lumbung  di kampungnya.
Kalau yang tidak ngababakan artinya pindah tempat, pindah tempat berteduh. Misalnya karena sudah tidak ada sanak saudara lagi di tempat asalnya. Apalagi yang punya istri atau suami di tempat lain, banyak yang berpindah tempat, atau ikut ke tempat suaminya atau ke tempat istrinya. Seterusnya menjadi orang sana. Tapi walaupun pindah tempat tetap orang Sunda juga karena orang Sunda. Begitu juga orang lain tetap jadi orang asalnya. Pada akhirnya lahir istilah pribumi, non-pribumi yang suka disingkat non-pri. Dengan orang asing hal bagus ini pertamanya dipakai pada jaman Belanda. Pribumi disebut Inlander. Non-pribumi disebut Vreemde Oosten, orang asing disebut Vreemdelingen. Vreemde Oosten adalah orang Cina, India, Arab, Jepang, dan lain-lain. Vreemdelingen maksudnya orang Eropa. Dengan adanya pemisahan ini, jadi ada tiga tingkatan/kelas. Karena orang Eropa dan Jepang digolongkan pada tingkat pertama atau kelas 1. Yang termasuk Vreemde Oosten digolongkan pada tingkat tengah atau kelas 2. Kalau Inlander tingkat paling bawah atau kelas 3. Vreemde oosten jadi penghubung antara kelas 1 dengan kelas 3. Makanya pribumi sudah hidup di negara merdeka juga tetap di tempat kelas 3. Yang jadi kelas 1nya adalah para pembesar yang sikapnya elit dari jaman Sukarno samapi jaman Habibi. Sesudah pindah ke jaman Gus Dur, baru merasa perubahan. Sebab kedaulatan sudah pindah ke rakyat lagi. Sekarang lagi diperjuangkan rubahnya pemerintahan bernegara. Sedang mencari bentuk baru yang lebih bagus.
S e j a r a h   S u n d a
Sejarah bisa dibagi menjadi pra-sejarah, sejarah dulu atau lama, sejarah kemarin dan sejarah kini. Pra-sejarah artinya kejadian yang tidak tercatat dalam sejarah. Sejarah dahulu adalah sejarah paling tua yang terjangkau oleh sejarah. Sejarah kemarin menceritakan tentang penjajahan oleh bangsa asing. Sedangkan sejarah sekarang adalah jaman setelah revolusi, negara kita jadi merdeka. Berikut ini penggalian satu-persatu sejarah yang diatas.
P r a – S e j a r a h  S u n d a
Kalau pra-sejarah artinya kejadian yang tidak di dapat oleh sejarah. Jadi tak dapat menceritakan ceritanya kejadian sejarahnya karena sudah tidak diperoleh. Namun karena ada bukti peninggalannya yang ada wujudnya dan yang tidak ada wujudnya. Yang ada wujudnya umpamanya adalah ‘lingga’, gua yang ‘lain alam’. Yang tidak ada wujudnya seperti ‘bahasa’, ‘lagu’.
Dahulu lingga dianggap sebagai pemujaan dalam upacara keagamaan, disebut karena lingga itu purusa. Arti purusa adalah perabot laki-laki. Entah bagaimana cerita bohongnya, (dramatisasinya), sampai menjadi upacara khusus yang bersangkutan dengan laki-laki. Kalau laki-laki maunya jadi jago terhadap perempuan. Kalau perempuan mau mempunyai laki-laki. Karena memang bersungguh-sungguh, ya ada juga yang diberi ijin.
Sekiranya orang membuat lingga yaitu mendirikan atau menancapkan agar kukuh dalam tanah, mau dipakai mengukur bayangan matahari. Bila sebelumnya hanya ditancapkan dengan kayu. Ternyata dibutuhkan yang tahan cuaca, sebab digunakannya untuk ribuan tahun. Kalau bukan dari kayu paling cuma ratusan tahun. Makanya dibuat dari batu hidup, yaitu batu yang keras dan padat. Dibuatnya bulat panjang. Lalu ditancapkan dengan kuat. Sebab dalam ukuran ribuan tahun tidak boleh berubah sedikitpun. Bila sampai berubah, pasti bayangannya jadi berubah juga.
Takut bila ada orang yang tidak mengerti kalau itu lingga, maka untuk keamanan lingga dikeramatkan. Sebab takut digunakan yang tidak-tidak. Dengan dikeramatkan begitu, maka tidak ada yang berani berbuat macam-macam. Tapi oleh pembuatnya tetap dipakai mengukur bayangan. Tapi oleh orang awam dipuja, disembah, diberi sesajen dan kukusan. Setan yang memakan sesajen pastinya adalah si pembuat lingga, untuk mereka tidak keramat. Malah yang menjadi dukunnya adalah mereka (si pembuat) juga.
Tujuan mendirikan Lingga adalah untuk mengukur bayangan matahari, di waktu tengah hari, di ukur dari panjangnya bayangan dan arah bayangan. Bisa dibayangkan pekerjaan mengukur bayangan begitu lama hingga ribuan tahun, betapa sukarnya, selain itu pasti ada data yang ompong (tak dapat di ambil datanya) karena alam atau hujan, kan tidak ada di bayangan. Tapi hitungan hari tidak berkurang. Tetap saja dihitung sehari, meskipun tidak ada data juga.
P e n a n g g a l a n    S u n d a
Hasil kerja yang begitu hingga kini masih dipakai yaitu ketetapan waktu yang lamanya 365 hari atau satu tahun. Dahulu orang pertamanya sadar kalau sekarang hubungan antara bumi dengan matahari mengikuti aturan hukum alam yang baku di dalam satu tahun itu munculnya bulan purnama 12 kali. Kalau lamanya di bulan purnama ke bulan purnama lagi 29 atau 30 hari. Jadi hubungan bumi dengan bulan juga tunduk pada aturan hukum alam yang baku.
Meneliti dan mempelajari perkara ini tidak ada habisnya dalam ribuan tahun. Sampai ke aturan hukum lama menggunakan aturan hukum matahari hubungan bumi dan bulan. Ki Sunda merumuskannya menjadi aturan penanggalan. Aturan penanggalan ini seterusnya di ikuti oleh penerus-penerusnya, menggunakan cara masing-masing. Penggunaan penanggalan akan dijabarkan pada bab penanggalan di bawah ini.
Sekarang kita jabarkan mengenai gua dan gua alam yang dirubah orang. Jaman manusia tidak jauh dari binatang, tinggalnya di gua. Sebab merasa aman, dapat berlindung dari hujan, panas dan angin. Kalau gua alam murni bentuknya alami. Tapi gua yang dipakai untuk berkumpul orang banyak yang dirubah, berdasarkan kebutuhan orang yang memakainya. Jaman dahulu cara hidup orang dengan binatang tidak berbeda jauh, malah saling menerkam satu sama lain.
Kemajuan orang bisa menggunakan alat seperti batu, digunakan untuk memukul, kayu sepotong untuk memukul. Lalu ada kemajuan, kayu bisa dipakai untuk penusuk, sebagai tombak, dengan cara dilemparkan. Dari sana bisa juga dibuat panah dengan busur. Jadi bisa digunakan jarak jauh, dengan membawa panahnya bisa banyak jumlahnya. Kalau dari batu pertamanya dipukul agar kecil dan tajam. Perkembangan setelah itu, batu diasah agar sangat tajam. Seterusnya batu dibentuk dan diasah, jadi bentuknya halus dan tajamnya bisa terjaga dan bisa diasah.
Semakin lama budaya orang semakin menggunakan akal. Karena dibiasakan menggunakan akal, orang jadi kepinteran. orang bisa mengungguli binatang. Akhirnya orang jadi penguasanya di darat, tapi kalau di laut belum ada yang menguasai. Tapi lama kelamaan orang juga bisa membuat perahu untuk di lautan. Semakin lama semakin besar. Jadi berlayarnya bisa lebih lama dan lebih jauh. Karena leluhur Ki Sunda hidup di kepulauan, wajar kalau pendahulunya mengenal lautan, dibanding dengan orang yang hidupnya di benua yang jauh dari lautan. Orang yang pertama kali merambah lautan adalah leluhur Ki Sunda.  Jangkauannya ke timur sampai ke Afrika Barat, ke baratnya sampai ke Amerika Timur. Bukti jangkauan ini, bisa diusut dari bahasa dengan tata bahasa dengan wilayah yang disebut Polinesia.
B a h a s a   S u n d a
Jadi dengan analisa ini, bukan bahasa Sunda dari bahasa Sansekerta, tapi sebaliknya, bahasa Sunda ibunya bahasa, oleh ahli bahasa disebut ‘Proto-Sundic’. Proto-Sundic keturunannya menjadi bahasa Melayu, bahasa Sansekerta, bahasa Kawi dengan yang lainnya. Bahasa-bahasa ini menurunkan lagi menjadi bahasa Indonesia. Bahasa Jawa dengan bahasa lainnya lagi. Kalau bahasa ada dua rupa. Ada bahasa baku dengan bahasa pasar. Kalau bahasa baku menggunakan tata bahasa yang baku, jadi harus pasti menurut aturannya. Kalau bahasa pasar mengutamakan asal ngerti, bila agak salah menggunakan aturan atau memilih yang bagus banyak minta maafnya. Sekarang bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi. Tapi karena tadinya dari bahasa pasar, jadi ditetapkan tata bahasanya agak sulit, karena tidak sadar berasal dari tata bahasa dalam bahasa Sunda (Proto-Sundic).
Karena orang Jawa mengaku pribumi asli lebih tua dari Sunda, terpaksa dibukakan data yang sebenarnya. Pada jaman kerajaan Sunda akhir abad ke-7, yang jadi penguasa lautan saat itu adalah Sanjaya. Semua bajak laut yang kebanyakan orang Cina, dihancurkan oleh Sanjaya. Tak hanya di lautan saja, tapi juga di pelabuhan tempat persembunyian para bajak laut. Semua yang membuat resah di lautan kalah oleh Sanjaya, maka lautan menjadi aman. Tapi setelah Sanjaya wafat di Mataram (dahulu: Jawa Tengah), orang Cina membawa peninggalan Sailendra yang disembunyikan di Palembang ke Mataram. Semakin banyaknya orang yang datang di laut, ketambah di Mataram untuk di kena tipu, akhirnya semua kabur ke barat, menggunakan jalan darat (perkampungan). Dari dahulu bangsa Syailendra yang mempunyai majikan orang Cina, jadi orang ‘Jawa Tengah’ dengan cara mengalihkan kerajaan Mataram. Jadi yang disebut orang Jawa Tengah sebenarnya orang Sailendra. Di jaman dahulu dibuatlah candi-candi. Pada relief gambarnya nya jelas memperlihatkan orang India . .. Hanya karena ingin menjadi pribumi asli dipaksakan sampai mengganti adat, mengganti bahasa, mengikuti tata cara orang Sunda, tapi bukan dengan cara sekolah, makanya pantas kalau banyak yang lain. Ciri orang Jawa Tengah bukan orang sini asli bisa dilihat dari cara membangun rumah. Kalau orang tropis rumahnya pasti rumah panggung. Kalau rumah orang Jawa Tengah rumahnya . . . . Jadi berdirinya bukan di daerah tropis. Jelasnya orang daerah orang sub-tropis di daerah India yang kalah perang, laju ke orang Cina dibawa dan disembunyikan di Palembang. Karena diusir ke kawasan Sanjaya. Jadi di sejarah ini dimengerti kalau orang jawa tengah yang dibodohi oleh Cina mau menaklukkan Sunda. Tapi tak ada hasilnya juga. Karenanya di jaman Orde Baru Suharto, Cina menjadi jawara. Tapi hanya sampai seumur Orde Baru. Orde Baru runtuh, Cina juga ikut runtuh. Orang Cina pada pergi – menurut ramalan. Hal ini ditutup sampai di sini saja.
K a r a w i t a n    S u n d a



Sekarang kita teruskan penjabaran perkara karawitan. Hal ini juga tidak tahu bagaimana pertamanya, tapi yang pasti Ki Sunda meninggalkan yang namanya laras atau surupan, patet, pupuh wirahma dengan waditra yang patut kita syukuri.  Pasti kalau pertamanya . . .lantaran memakai otak, jadi hasilnya juga tidak sembarangan. Ada aturan yang dijadikan patokan. Patokan laras atau surupan dumasar dijadikan 5 nada. Nada-nada ini diarahkan  Tugu, Singgul, Galimer, Panelu dengan Kenong. Nama ini sebenarnya macam-macam, umpamanya ada yang disebut Barang, Singgul, Bem, Panelu, Lorloran dst.
Yang mencari dalam karawitan yaitu Pak Mahyar. Lahir yang disebut rakitan. Ada rakitan 9 nada, rakitan 10 nada, rakitan 12 nada, rakitan 15 nada, rakitan 17 nada. Malah sesudah diteliti kemarinya ada yang disebut embat, akibatnya kena rakitan jadi semakin banyak, sebab kejarannya enak didengar, bukan rakitannya.
Rakitan 10 nada di genggaman dibangun oleh 10 nada, tapi yang disuarakan tetap 5 nada.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
T
S
G
P
K
atau
Susunan pada gambar ini disebut laras Salendo
Kalau gambar ini dipanjangkan, jadi nadanya balik lagi ke asal, tapi suaranya beda genggaman, seperti berikut :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1
T
S
G
P
K
T
Kalau susunan nada yang lima dirubah, larasnya menjadi beda, atau lahir disebut laras Degung,  dengan laras Madenda.
Susunan nada Laras Degung pada rakitan 10 nada.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1
T

S G
P

K T
Susunan nada Laras Madenda pada rakitan 10 nada.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1
T

S
G P

K T
Susunan nada-nada ini pada Saron laras Salendro seperti berikut ini:
S G P K T S
B u d a y a    S u n d a
Yang disebut budaya Sunda pertamanya di dalamnya manusia, lalu dijelaskan dibangun yang dianggap rajin berbenah menyentuh hati. Ada budaya yang dijelaskan dalam penglihatan karena ada ikatan dengan mata. Ada budaya yang dijelaskan dengan pendengaran karena ada ikatan dengan kuping, dan seterusnya yang dihubungkan dengan indra lainnya dengan gabungan indra-indra yang mempengaruhi adanya dan diadakannya penjelasan yang diadakan atau dibuat.
Karena orang yang mengerti, membangun apa juga tetap mempunyai arti. Tapi karena yang belum mengerti cuma ikut-ikutan. Karena yang sebelumnya termasuk orang penganut dogma, yaitu orang kebingungan, seperti ‘saya yang paling benar’. Padahal jelas-jelas termasuk dalam golongan orang yang belum mengerti. Karena dogmanya harus dibuang, diganti ilmu dalam arti yang sebenarnya. Jangan cuma katanya, tapi harus mengerti diri.
Dalam menerangkan masalah budaya ada tingkatannya seperti tingkatan sekolah. Ada tingkatan SD, Lanjutan, Universitas. Ada juga yang sudah tingkat yang sangat tinggi. Karena tingkat SD biasanya cuma berupa dongeng. Dongeng ini juga sampai tingkat mana yang membuatnya. Kalau dahulu, dongeng untuk anak, juga untuk menasehati orang tua, contohnya dongeng ‘Si Kabayan mengambil keong. Dongeng itu sekilas hanya dongeng untuk anak-anak. Tapi bila diulas isinya orang tua juga banyak yang tidak mengerti, tidak paham.
Dongeng itu sebenarnya menyindir ke orang tua tapi yang tidak terlalu tua. Bakti karena tidak sadar ke ibu. Orang yang terlalu terdogma yaitu orang yang terlalu tidak mengerti kalau dirinya tidak punya arti, mungkin karena dianggap benar, menganggap benar karena yang lain. Padahal kalau benar diukurnya dengan pamali, benar ceritanya, bukan mungkin bukan yang lain. Sebab ukuran pamali sama dengan ukuran pengertian diri. Semakin dalam semakin mengerti, semakin menjauhkan larangan pamali. Malah jadi tempat bertanya orang banyak.
Dongeng lainnya seperti itu umpamanya ‘dongeng memegang gajah’. Bersama-sama mereka menerangkan gajah seperti apa dan bagaimana. Masing-masing keterangannya bermacam-macam, tergantung kena apa yang dirabanya tadi. Ada yang menyebut seperti tiang (kakinya), ada juga yang disebut seperti ular (belalainya), ada yang menyebut keras (gadingnya) dst. Disini maksud si pembuat dongeng yaitu menerangkan kalau tahu, tak bisa disebut benar. Kalau menyebut gajah harus semuanya dengan jelas, jangan setengah-setengah.
Ada lagi ‘dongeng orang menjual kuda’. Dipercayakan pada anaknya dicela. Dipercayakan pada bapaknya dicela.  Dipercayakan ke mereka berdua. Tapi tidak dipercayakan dicela. Akhirnya kuda tersebut malah digotong. Dongeng ini maksudnya menerangkan ke orang yang tidak punya pendirian. Begini-begitu, bagaimana kata orang saja. Mereka sendiri juga tidak tahu yang disebut benar. Akhirnya langkahnya jadi benar-benar salah. Menggotong kuda, padahal bisa jalan sendiri kuda itu.
Dongeng pondok : ‘Ada satu raja yang sukanya papaya mentah’, maksudnya menyindir ke yang serakah, aji mumpung. Kalau raja yang sukanya papaya mentah, apalagi ke yang matang. Jadi rakyat kebagian apa, mengapa harus makan daunnya atau pohonnya?
Ada lagi dongeng pongok : ‘Ada satu raja lalu wafat’. Kalau tidak wafat panjang ceritanya. Cerita tersebut hanya humor untuk anak-anak yang didongengkan, karena dia lagi malas mendongeng untuk anak-anak.
Jadi yang disebut dongeng macam-macam, dari yang benar sampai yang bohong. Karena yang tidak sadar tidak bisa membedakan dongeng yang benar dengan dongeng yang bohong. Padahal tidak terlalu susah membedakannya. Kalau dongeng tentang dogma sudah pasti tidak benarnya. Walaupun dikarang bagaimana juga. Kalau dasarnya tidak benar ya tetap tidak benar. Hanya biasanya dikarang dengan hati-hati. Sudah tidak ada bohongnya. Terasanya harus begitu saja. Mengapa kita mau berbohong atau menyatakan yang tidak benar malahan disatukan dengan seni.
Ini semua termasuk dalam budaya. Kalau disebut budaya Sunda harus ada Sundanya atau hal keSundaannya harus terbawa. Seperti dalam contoh dongeng di atas, keSundaannya jelas terbawa. Apalagi kalau mencari  keong lihat keSundaannya. Tapi tidak semua dongeng yang memerankan Kabayan mendongengkan keSundaan atau termasuk ke budaya Sunda.
Malahan hal budaya Sunda juga Sunda yang mana. Budaya Sunda dahulu atau Sunda wiwitan beda di budaya Sunda kemarin, beda lagi di budaya sejarah Sunda. Pada budaya Sunda dahulu atau budaya Sunda wiwitan, budaya Sunda bisa disebut budaya asli karena belum terpengaruh pada budaya lainnya. Kalau dalam budaya Sunda kemarin, sudah ganti dengan pengaruh budaya lain, utamanya yang terikat dengan agama Islam. Sejarah budaya bisa disebut budaya campur-aduk, sebab campurannya tidak memakai aturan. Karena dasarnya tidak mengerti. Kalau dasarnya mengerti, membuat campuran jelas tujuannya, jelas membuat apa-apanya. Kalau campuran asal-asalan seperti sampah.
Bagaimana budaya kedepannya tidak benar kalau mau membuat sampah, sampah saja. Kalau sampah dimana-mana juga buangan dan tidak ada arahannya.  Jadi kalau barang buatan harus ada gunanya. Harus selesai jangan tidak selesai, jangan mentah atau hangus, tapi harus masak. Pada barang buatan apa saja, harus irit dengan waktu, jangan membuang bahan dengan waktu. Jangan santai tapi kudu gesit. Jangan melanggar yang dilarang, makanya jadi terbengkalai kena langgaran, hasilnya tidak menyenangkan, bisa-bisa merugikan. Jadi apa gunanya melanggar kalau akhirya jadi rugi. Yang harusnya yaitu syarat jadi hasil pekerjaan. Yang begitu disebut pasti kira hasilnya gagal dari yang diharapkan. Jadi melanggar tidak tambah laku karena tidak cocok dengan tujuan.
Langgaran benar yaitu langgaran yang tidak salah. Budaya benar budaya yang tidak salah. Kalau orang Sunda menggunakan budaya Sunda pasti benar. Kalau orang Sunda tidak memakai budaya Sunda pasti salahnya. Budaya Sunda dapat ditambahkan atau disempurnakan, tapi jangan diganti ke menumpas budaya Sunda, menumpas Sunda. Kalau diperhatikan tidak kurang orang yang mengaku orang Sunda, tapi langkahnya menumpas budaya Sunda. Artinya menumpas Sunda. Bukti nyata hal-hal yang menyangkut pada kesundaan sudah banyak yang ditinggalkan, dibuang. Budaya lain masuk secara paksa karena mengganti budaya Sunda. Kalau yang punya langgaran itu lain-lain pantes karena punya maksud yang disembunyikan. Tapi kalau yang punya langgaran merusak begitu sama yang mengaku orang Sunda. Apa kebisaannya kalau bukan disebut orang gila, bahasa halusnya yang pinter keblinger.  Atau dengan dibalik. Orang jadi angkasawan, kita jadi sawan angka. Orang jadi politikus, kita cuma jadi tikus. Budaya bisa dilihat dari peradaban, suka beradap atau suka biadab.
sumber : http://artshangkala.wordpress.com/2009/05/15/perbedaan-batu-tulis-petilasan-dan-makam/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar